Terima Kasih Telah Berkunjung Ke PIMR, Kunjungan Anda Adalah Dukungan Anda, PIMR Membuka Pintu Selebar-lebarnya Bagi Siapa Saja Yang Mau Bergabung, Mempunyai Minat, Memiliki Kesamaan Visi & Misi Membangun Daerah Manggarai, Dengan Menaikan Status Blogspot Ini Menjadi Situs Informasi Resmi Bagi Masyarakat Manggarai
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Maret 2017

Saat Maut Batal Menjemput (Cerpen Kompas)

“Surga itu pasti indah! Karena tak seorang pun dari sanak keluarga kita yang telah meninggal kembali lagi ke dunia ini.” Pernyataan ini merupakan petikan beberapa kalimat dari seorang pastor katolik yang sedang berusaha menghibur dan meneguhkan keluarga yang ditinggalkan seorang bapak keluarga karena kematian yang ‘mendadak’ dalam sebuah kotbah misa requiem.

Kematian seseorang biasanya meninggalkan segudang pertanyaan.Tak jarang pertanyaan retoris. Mengapa? Bagaimana? Ke mana? Beserta sederetan kata Tanya lainnya. Yang masih hidup bertanya dan mempertanyakan. Tak ada jawaban pasti. Kebanyakan analisa post mortem. Sebagain kecil di antaranya memberi kepuasan. Hanya kepuasan psikologis. Dipaksa untuk memahami berdasarkan rangkaian fakta ante mortem. Sebagian besarnya lagi mengambang. Tetap tertinggal sebagai kata Tanya. Tanpa jawaban.

Hanya dia yang pergi, yang meninggal, yang tahu pasti tentang proses kematiannya. Mungkin? Tak ada jawaban pasti! Karena yang meninggal telah kehilangan kesadarannya secara total. Otak tidak lagi berfungsi. Belum tentu! Boleh jadi, saat kematian adalah moment manusia mengalami kesadaran secara total. Bukan oleh indra bahkan otak. Tetapi seluruh dirinya.
Ilustrasi Radar Pancha Dahana/Kompas

“Saat Maut Batal Menjemput”, merupakan sebuah cerpen yang sarat dengan pertanyaan reflektif dan menggelitik. Sains (ilmu medic) menggambarkan akhir hidup manusia dengan kehilangan fungsi kesadaran secara bertahap. Lain dengan si Aku dalam Saat Maut Batal Menjemput. Dalam kehilangan, si Aku mendapatkan. Lebih tepatnya si Aku tidak kehilangan. Pemahaman! Ia tidak hilang. Pemahaman ! Ia tetap.  Ia tidak hanya dimiliki oleh mata dan dicerna oleh otak tetapi seluruh bagian tubuh. Kesadaran sempurna dan total ini yang membuat si Aku sanggup “melihat” kehadiran Eva. Ia adalah perempuan simbolik yang menjadi mitra dialog si Aku di ujung jalan hidupnya. Si Eva hadir tidak menghakimi. Ia membuka ruang insaf, menyingkap cakrawala kesadaran. Eva mempesona sekaligus menggetarkan, membuat si Aku takut kehilangan lagi. Nama Eva pula yang menjadi penarik si Aku ke kesadaran fisis yang dibatasi kebudayaan warisan dan pemahaman logis-rational. Si Eva lenyap, maut pun batal menjemput. Si Aku kembali pada rutinitas harian… dalam kesendirian “bersama”.

Anda tertarik dan ingin melanjutkan “Saat Maut Batal Menjemput”? Silahkan teruskan membaca racikan sastra karya Radhar Panca Dharma* di bawah ini. Anda bisa berkomentar dan menarik kesimpulan anda sendiri. Tiap kita pasti akan mengalami pergulatan akhir itu. Entah seperti apa cerita sesungguhnya…

Rabu, 28 Oktober 2015

JENGGO:Cerpen

Menjadi pahlawan selalu diibaratkan bahkan diidentikan dengan menjadi sosok PEMBELA, bagi yang lain. Karena MESTI membela maka seorang pahlawan semestinya memiliki keunggulan tertentu sehingga bisa melindungi orang yang dilindunginya. Lalu apa jadinya jika kita tidak memiliki keunggulan yang seharusnya dimiliki oleh seorang pahlawan? MENGUBAH: watak dan karakter, itulah jawabannya; dan tentu saja hal itu bisa bermuara pada represi--- dan represi merupakan wajah lumrah dalam dunia militer--- namun kebanyakan masyarakat menyukainya dan juga menganggapnya normal ketika orang-orang militer berlaku keras, acap kali kasar, menjadi yang terdepan ‘mungkin’ untuk membela Negara tetapi juga di SPBU, loket2 masuk stadion, pelabuhan dan tempat-tempat pertunjukkan. Mereka tak kenal antri; karena mereka hanya mau tunduk pada satu garis komando. Dengan alasan seperti itulah Pan Jenggo hendak “memiliterkan” si Wayan Putra tunggalnya… karena ia banci. Mestikah Wayan menjadi pahlawan bersepatu lars? Atau? Baca kelanjutan kisahnya dalam “JENGGO” cerpen buah karya, Putu Wijaya.
lukisan hari budiono
 Putra tunggal Pan Jenggo mau masuk ABRI. Pan Jenggo dengan bangga mengumumkan itu pada para tetangga. Ia sendiri mengaku pernah gagal masuk ABRI karena matanya jereng sebelah.

”Maka Jenggo sekarang harus jadi ’balas dendam’ saya!” kata Pan Jenggo.

Tetapi, istrinya sendiri tak setuju. Men Jenggo lebih sreg, Wayan Jenggo membantu jaga warungnya. Karena itulah sumber utama nafkah keluarga.

”Saya sendiri sudah kena rematik, susah untuk meneruskan ngurus warung. Sementara bapak kan seniman pengangguran yang merasa berdagang itu pekerjaan jahat. Ia memang suka perang, tapi sebatas nonton film. Sejatinya ia penakut. Itu sebabnya ia memaksa anaknya jadi pahlawan.”

Men Jenggo lantas konsultasi ke Bu RT. Meminta petunjuk bagaimana caranya supaya suaminya berhenti memaksa Jenggo memanggul senjata.

”Saya setuju dengan Bu RT, menjadi pahlawan itu bisa dengan banyak cara. Jaga warung sumber nafkah keluarga, misalnya. Atau jadi warga yang baik, tidak ikut-ikutan narkoba. Kenapa harus jauh-jauh mencari kepahlawanan kalau di depan mata saja sudah ada wadahnya?”

Bu RT langsung lapor suaminya.

”Saya heran, Pak, Jenggo itu kan orangnya lemah-lembut. Jangankan berperang, bunuh nyamuk pun ia tidak mau, kalau tidak terlalu perlu. Bagaimana bisa memanggul senjata, lihat, memanggul pacul kalau masyarakat lagi kerja bakti saja, ia sering diketawain, karena kelihatan kikuk!”

”Betul.”

”Kenapa Pan Jenggo mau anaknya jadi tentara?”

”Supaya Jenggo jadi laki-laki sejati!”

”Maksud Bapak?”

”Aduh, ibu masak tidak tahu, Jenggo itu kan banci!”

Bu RT tertegun.

”Jadi Pan Jenggo mau menterapi anaknya supaya jadi laki-laki normal dengan memaksanya memanggul senjata?”

”Betul! Tapi mana mungkin banci diterima jadi tentara!”

Bu RT menarik napas lega. Karena itu berarti Jenggo akan selamat dan bisa jaga warung ibunya. Tetapi, setelah berpikir, ia terkejut.

”Tapi, kalau Jenggo ditolak jadi tentara, apa itu tidak akan membuat Pan Jenggo kecewa dan Jenggo sendiri minder, Pak? Karena naga-naganya Nak Jenggo sendiri juga begitu bersemangat akan bisa panggul senjata?!”

”Ya, itulah!”

”Kalau begitu, cepat dong temui Pan Jenggo. Ajak ngomong, kasih masukan. Kasihan. Mereka kan keluarga baik-baik dan cs kita!”

Pak RT tak menjawab. Tapi esoknya ia menemui Pan Jenggo.

”Bagaimana? Jadi memasukkan Wayan jadi ABRI, Pak?”

Beda dari sebelum-sebelumnya, Pan Jenggo menunduk sedih. Ia tak bisa berbohong kepada Pak RT.

”Kelihatannya, tidak mungkin, Pak RT.”

”Kenapa?”

”Pak kan tahu sendiri. Anak saya Wayan itu banci.”

Pak RT terkejut sekaligus trenyuh. Ia tak menduga sahabatnya itu akan ngeceplos begitu blakblakan. Ia hampir tak tahu harus bilang apa.

”Jadi batal?”

”Ya iyalah, daripada malu karena ditolak, lebih baik mundur teratur. Kecuali kalau nanti dapat koneksi.”

”O, jangan. Dimulai dengan yang tidak baik, hasilnya hanya akan remuk!”

Pan Jenggo termenung.

”Betul, hanya masalahnya Wayan sendiri juga sudah ngebet sekali jadi tentara, Pak RT.”

Pak RT heran, nyaris tak percaya.

”Masak? Jenggo sendiri yang ingin jadi tentara? Bukannya dulu Pak yang sudah mendesaknya?”

Pan Jenggo menghela napas panjang, lalu menatap.

”Mula-mula memang begitu, Pak RT. Saya ini kan lacur. Punya anak hanya satu, kok banci. Nanti siapa melanjutkan keturunan? Saya terpaksa cari second opinion ke balian. Dia nyuruh saya memasukkan Wayan jadi tentara, supaya jadi jantan. Istri saya yang pertama-tama menentang. Saya tidak peduli. Eh, lama-lama dia menyerah juga. Entah konsultasi dengan siapa, dia mendadak setuju dengan anjuran dukun. Dia izinkan saya memaksa anaknya jadi tentara, supaya jadi laki-laki sejati. Sudahlah sekarang terserah Bapak, saya pasrah, katanya. Mau diapain saja Wayan, yang penting Wayan tidak ngambul, lari dari rumah seperti Sobrat itu. Istri saya berbalik begitu mungkin karena melihat sekarang tidak ada kemungkinan Perang Dunia Ketiga akan meletus. Jadi tidak ada bahayanya anak kami jadi tentara. Asal nanti setelah jadi ABRI, Wayan harus ikut di barisan musik saja. Pegang alat kecret-kecret asal-asalan juga tidak apa-apa, yang penting bukan bedil. Tidak dibunuh dan tidak membunuh. Begitu, Pak.”

”Wah, ibu pintar juga, taktiknya!”

”Ya, saya jadi terharu juga. Baru ingat, bahwa daripada jadi pahlawan tapi mati, anak semata wayang lebih baik hidup, Pak RT. Meskipun nanti pangkatnya balok terus sampai tua, tidak naik-naik karena tidak pernah ikut berperang. Tapi kemudian kembali ada masaalah. Ada lagi yang bilangin saya, anak tunggal tidak diperkenankan masuk militer. Betul itu, Pak RT?”

”Saya kira itu masuk akal.”

”Nah, itu bikin masalah baru. Bagaimana kalau Wayan ketahuan anak tunggal? Terpaksa lagi saya putar otak, lalu memutuskan: sebelum ditolak, lebih baik mundur teratur daripada hancur-lebur. Tapi begitu saya mau mundur, istri saya marah, mendesak: Jenggo harus masuk militer!!”

Pak RT kaget

”Masak?”

”Ya!”

”Kenapa?”

”Katanya, anaknya sendiri yang menangis-nangis supaya diizinkan jadi tentara. Bahkan mengancam akan bunuh diri kalau dilarang.”

Pak RT tertegun. Ia tak berani melanjutkan percakapan. Merasa itu sebagai bagian dari misteri perempuan, ia mendesak istrinya bertanya-tanya kepada Men Jenggo.

”Apa betul, Wayan mengancam akan bunuh diri kalau dilarang masuk jadi tentara, Bu?”

Menurut Bu RT, betul.

”Sebenarnya saya juga mula-mula tak percaya juga, Pak. Baru setelah Men Jenggo menunjukkan surat ancaman yang ditulis Jenggo, saya percaya. Surat itu ditandatangani dengan cap jempol berdarah.”

Pak RT terperanjat.

”Cap jempol berdarah?”

”Ya.”

”Darah asli atau tinta merah atau darah ayam?”

”Katanya darah asli tangan Jenggo sendiri!”

”Katanya? Jadi surat ancaman itu, Ibu tidak lihat sendiri alias hanya omongan Men Jenggo.”

”Tapi kata Men Jenggo, sudah pasti itu darah Jenggo asli. Sekarang sebaiknya Bapak cepat bertindak. Orang begitu kan susah dikendalikan kalau sudah emosi. Cepat, Pak, jangan sampai terlambat, mereka kan warga kita.”

Akhirnya Pak RT langsung menemui Jenggo. Ia tak merasa mampu bicara dengan ibunya. Karena dengan Jenggo, ia bisa tembak langsung.

”Coba lihat jempolmu, Wayan.”

Jenggo menunjukkan jempol kanannya yang ditensoplas. Pak RT mengangguk.

”Jadi betul kamu mengancam mau bunuh diri kalau dilarang jadi tentara?”

Jenggo tak berani membantah.

”Betul, Pak.”

”Kenapa?”

”Saya ingin jadi pahlawan.”

Pak RT menahan tertawa.

”Pahlawan?”

Tiba-tiba suara Jenggo menanjak.

”Ya! Apa salahnya orang banci jadi pahlawan?!!”

Pak RT betul-betul kaget. Tak menyangka anak yang lembut itu bisa galak. Seakan kesabarannya telah habis. Hatinya yang tampak luluh membuat Pak RT sedih.

Protes Jenggo, lamat-lamat bagai salak anjing di kejauhan di malam sepi. Tak berdaya. Tak ada yang peduli. Tapi, itu justru menimbun simpati. Entah sudah berapa tebal marah, tangis, rasa terhina yang ditahan-tahannya.

Beberapa lama Pak RT membisu. Ia tak mampu menggoyang keharuannya. Sebab ia kenal Wayan sejak bayi. Anaknya lucu, manis, dan baik budi. Kini ia sudah mulai terluka oleh lingkungan yang tak bisa menerimanya.

Akhirnya Pak RT minta maaf.

”Maaf Wayan, bukan itu maksud, bapak. Tidak seorang pun berhak melarang siapa pun yang ingin menjadi pahlawan. Kalau itu memang cita-citamu, itu cita-cita yang luhur. Kejarlah, berjuanglah dengan seluruh jiwa-ragamu jadikan kenyataan. Berhasil atau gagal itu bukan masalah. Berjuang habis-habisan itulah makna kepahlawanan yang sesungguh-sungguhnya!”

Jenggo menundukkan kepalanya seperti terlalu berat. Bibirnya bergetar.

”Kenapa anak tunggal ditolak jadi tentara, Pak RT”

Pak RT tak bisa menjawab.

”Apalagi banci!!!?”

Suara Jenggo bergetar perih.

”Banci tidak mungkin jadi pahlawan, Pak RT! Orangtuaku sudah salah kaprah!”

Tiba-tiba Jenggo menarik belati yang disembunyikan di pinggangnya. Pak RT tersirap.

”Wayan, jangan!”

Terlambat. Jenggo sudah mengayunkan belati itu, menikam tangan kirinya. Trak! Mantap betul. Di balik tubuhnya yang lembut itu ternyata tersimpan tenaga lelaki sejati.

Pak RT menjerit dalam hati sambil memejamkan mata. Ia merasakan darah tumpah mengguyur meja.

Ketika Jenggo mengisak Pak RT memaksa matanya terbuka. Belati itu menembus meja, di antara telunjuk dan ibu jari Jenggo. Tidak ada darah.

Pak RT mengusap dada. Waktu Jenggo menarik kembali belati dari meja, seperti hendak mengulang menikam, Pak RT langsung memeluk.

”Jangan, jangan. Bapak mohon, jangan! Jangan!”

Jenggo bersikeras hendak mengulangi tikamannya. Pak RT akhirnya membentak.

”Jangan!!!!”

Suara keras dan tegas Pak RT membuat Jenggo senyap. Pak RT terus menyerang dengan beringas.

”Tidak ada orang berhak memaksa orang lain, anak kandungnya sendiri sekalipun, untuk jadi pahlawan! Siapa bilang kamu bukan pahlawan? Setiap orang adalah pahlawan untuk dirimu sendiri, tahu?!!”

Jenggo menangis.

”Tahu?!!”

Jenggo terisak-isak.

”Jenggo!! Kamu tak perlu jadi pahlawan! Kamu sudah pahlawan, ngerti?!!”

Jenggo mengangkat mukanya. Bibirnya gemetar. Sambil bercucuran air mata ia berbisik.

”Pak RT, tolong bilang pada orangtuaku, aku tidak ingin jadi pahlawan. Aku tidak mau jadi pahlawan! Biar aku begini saja. Aku sudah cukup!!”

Jenggo menelungkup, seperti memasukkan tangisnya ke meja. Perlahan-lahan dan lembut, Pak RT mengambil belati di tangan Jenggo, lalu mengungsikannya keluar.

”Ada apa, Pak?” sapa Bu RT, menegur suaminya yang pulang membawa belati.

Pak RT tak menjawab. Ia menyimpan belati itu ke kotak berisi beberapa senjata tajam, yang sebelumnya ia lucuti dari beberapa pemuda yang lain.

Subuh esok harinya, ketika keluar rumah hendak menyiram kebun, Pan Jenggo muncul. Ia menyapa Pak RT dengan ramah.

”Pak RT, Wayan sudah bulat tekadnya sekarang. Ia bilang ia sudah meyakini mau jadi pahlawan. Tapi saya pikir-pikir lagi, bukan hanya dia, saya juga harus jadi pahlawan.”

Pan Jenggo mengulurkan tangan untuk bersalaman. Pak RT menyambut heran. Ia baru melihat Pan Jenggo memakai seragam Go-Jek ketika mendorong motornya ke jalan.

Subuh masih terlalu muda. Langit belum merah, banyak orang masih tidur. Tapi ada suara klatak-klitik di samping. Waktu Pak RT menoleh, tampak Jenggo mulai buka warung. Kehidupan rupanya sudah bergerak. 
Selamat hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2015
Cerpen di atas adalah buah karya Putu Wijaya, PIMR hanya mengarsipinya secara digital dalam blog ini. Anda bisa mengunjungi sumber aslinya di bawah ini 

http://print.kompas.com/baca/2015/10/25/JENGGO

Yang lainnya:

Rabu, 21 Oktober 2015

CINTAKU JAUH DI KOMODO*

Kita berada karena cinta tetapi kita tidak pernah menghendaki untuk mencintai. Ia tiba-tiba datang dan kita “terlempar di dalamnya”. Waktu, situasi yang merancang terjadinya jalinan cinta. Entah ia (cinta) sudah tertanam di dalah hati dan jiwa ketika kita dijadikan, entah dia (cinta) bayang-bayang yang berkelebat yang tiba-tiba merasuki diri kita, kita tertarik karena cinta dan dipersatukan karena cinta.
Apakah cinta sejati lekang dimakan usia dan berubah seiring perubahan? TIDAK…karena cinta tak berasa, cinta tak berbentuk, bahkan ketika “cangkang” tempat persemayaman cinta berubah, ia-cinta tidak berubah- pun ketika kekasih jiwaku menjadi seekor komodo ganas..aku tetap mencintainya.
Ikuti kisah lengkap pengembaraan mencari cinta yang berjarak zaman dan berbatas bentuk, dalam “Cintaku Jauh di Komodo” buah karya Seno Gumira Ajidarma 12 tahun silam.
 
Hanya laut. Hanya kekosongan. Dunia hanyalah laut dan langit yang dibatasi garis tipis melingkar, membentuk garis lingkaran yang tiada pernah berubah jaraknya, meski perahuku melaju menembus angin yang bergaram. Bibirku terasa asin dan rambutku menyerap garam, tapi kutahu cintaku belum akan berkarat bila tiba di pulau itu. Bagaimana cinta akan berkarat hanya karena sebuah jarak dari Labuan Bajo ke Komodo, jika cinta ini belum juga berkarat setelah mengarungi berabad-abad jarak, dari suatu masa ketika cinta pertama kali ada? Lagi pula bagaimana cinta akan berkarat karena angin yang bergaram jika cinta memang bukan besi? Aku dan kekasihku diciptakan dari sepasang bayang-bayang di tembok yang tubuhnya sudah mati, dan semenjak saat itu kami menjadi semacam takdir ketika tiada sesuatu pun di dunia ini yang bisa memutuskan hubungan cinta kami. Barangkali itulah yang disebut dengan cinta abadi.
Gambar:ilustrasi

Aku mengatakannya semacam takdir, karena kami memang tidak terpisahkan, tapi aku hanya berani mengatakannya semacam takdir, dan bukan takdir itu sendiri, karena sesungguhnyalah aku tidak akan bisa tahu apakah benar cinta kami yang barangkali abadi itu adalah takdir. Kami seperti tiba-tiba saja ada dan saling mencintai sepenuh hati, tapi sungguh mati memang hanya seperti dan sekali lagi hanya seperti, karena sesungguhnyalah hubungan cinta kami yang barangkali abadi itu adalah sesuatu yang diperjuangkan. Cinta yang abadi kukira bukanlah sesuatu yang ditakdirkan, cinta yang abadi adalah sesuatu yang diperjuangkan terus-menerus sehingga cinta itu tetap ada, tetap bertahan, tetap membara, tetap penuh pesona, tetap menggelisahkan, tetap misterius, dan tetap terus-menerus menimbulkan tanda tanya: Cintakah kau padaku? Cintakah kau padaku?